Waspada Penipuan Penggandaan Uang, Ini Modus Lama yang Berulang

Loading...
Masih segar diingatan kita peristiwa penipuan penggandaan uang yang dilakukan oleh Dimas Kanjeng beberapa waktu yang lalu. Tidak tanggung-tanggung, jumlah orang yang tertipu dengan modus menggandakan uang ini mencapai ribuan orang.

Sebagian besar orang pasti punya impian ingin menjadi orang kaya, bisa menikmati kekayaan bersama keluarga dan kerabat. Impian seperti ini adalah hal yang wajar dan manusiawi. Namun, banyak sekali orang ingin cepat kaya tapi melakukan cara-cara yang merugikan orang lain dan melanggar hukum.

Bagi sebagian orang, harta adalah sumber kebahagiaan dan martabat. Pola pikir seperti ini akhirnya membuat banyak orang ingin cepat kaya, tidak perduli bagaimana caranya. Inilah awalnya seseorang mudah terbujuk dan terjebak ke dalam penipuan penggandaan uang, karena ingin cepat kaya!




Bagaimana alur penipuan penggandaan uang ini? Berikut ini ulasan singkatnya:

Penipuan dengan Modus Menggandakan Uang

Penipuan dengan modus bisa menggandakan uang adalah penipuan yang dilakukan secara terorganisir, di mana para pelaku menjanjikan jumlah uang yang menjadi modal awal akan bertambah berkali lipat. Penipuan dengan modus seperti ini sudah terjadi berkali-kali di Indonesia, dan angka kerugian korban mencapai miliaran rupiah.

Pelaku kejahatan penipuan ini banyak dilakukan olah warga negara Afrika, bahkan di negara Afrikan penipuan dengan modus seperti ini sudah sering terjadi. Selain Afrika dan Indonesia, beberapa negara lain yang sempat terjadi penipuan seperti ini adalah India, Thailand, China, dan Malaysia.

Lalu bagaimana cara pelaku mempengaruhi dan akhirnya berhasil menipu korban?

Artikel lain: Ini Cara Cepat Kaya Mendadak Menjadi Jutawan Bahkan Miliarder

Skenario yang Dijalan Pelaku

Pelaku penipuan penggandaan uang bisa dilakukan seorang diri, tapi biasanya dilakukan secara berkelompok. Para pelaku adalah orang-orang yang sudah sangat ahli memanipulasi dan menipu orang. Di Indonesia sendiri hampir setiap tahun ada laporan terjadi penipuan yang mirip, yang berbeda adalah skenario atau trik para pelaku menipu para korbannya.

Para pelaku memilih calon korbannya tidak sembarangan. Mereka tidak hanya memilih calon korban yang memiliki banyak uang dan serakah, tapi juga orang yang hidup pas-pasan dan ingin cepat kaya. Singkatnya, para pelaku sudah memahami kondisi psikologis calon korbannya.

Pertemuan I: Unjuk Kemampuan

Awalnya para penipu ini akan mempromosikan informasi tentang cara mendapatkan uang banyak dengan cepat kepada masyarakat. Promosi yang dilakukan adalah dari mulut ke mulut (Word of Mouth). Bahkan mereka bersedia membayar beberapa orang untuk menceritakan keberhasilan palsu kepada masyarakat.





Beberapa orang yang mendengar kisah tersebut kemungkinan besar akan tertarik dan selanjutnya akan meminta orang bayaran tersebut mempertemukan dengan pelaku. Untuk meyakinkan calon korban, biasanya tempat pertemuan dilakukan di hotel berbintang dan si pelaku menggunakan pakaian yang elegan.

Pada pertemuan pertama inilah para pelaku memperlihatkan contoh penggandaan uang yang bisa mereka lakukan.

Sebagai awal, para pelaku akan menggandakan uang sebesar Rp 1 juta menjadi Rp 3 juta. Si pelaku akan pura-pura meminat bagian 50 persen dari hasil penggandaan uang. Korban yang percaya dengan kemampuan si pelaku untuk menggandakan uang kemudian ingin mendapatkan uang yang lebih banyak.

Pelaku kemudian meminta pertemuan selanjutnya bila ingin hasil yang lebih besar. Dan si korban diharuskan membawa uang yang lebih banyak agar uang yang digandakan semakin besar.

Pertemuan II : Transaksi gagal

Pada pertemuan berikutnya korban membawa uang yang lebih banyak untuk digandakan. Para pelaku menyiapkan segepok uang palsu yang tersusun rapih yang mirip dengan uang asli dan diberi cairan kimia khusus yang dimasukkan ke dalam plastik kedap udara.

Pada pertemuan kedua ini para pelaku mengatakan bahwa proses penggandaan uang gagal dilakukan. Alasannya bermacam-macam, alasan yang sering disebutkan adalah karena uang tidak bisa diterima. Agar korban tidak curiga, para pelaku memberikan uang palsu yang mirip sekali denga uang asli kepada korban. Pada saat ini, uang asli sudah berhasil diambil oleh para pelaku.

Korban menyadari dirinya sudah ditipu saat menggunakannya. Sayangnya, sebagian besar korban yang sudah tertipu dengan modus penggandaan uang tidak mau melapor kepada pihak berwajib. Ada beberapa alasan mengapa korban tidak melapor:

Baca juga: Uang Baru Indonesia Diresmikan, Ini 12 Tokoh Yang Menjadi Ikon Rupiah

1. Rasa Malu

Seperti yang disebutkan sebelumnya, para pelaku sudah mengetahui psikologis calon korban. Mereka bisa memprediksi bahwa korban tidak akan melaporkan kejadian tersebut karena merasa malu pada keluarga dan kerabatnya. Siapapun yang mengetahui kejadian tersebut tentu akan menganggap si korban melakukan hal yang tidak terpuji, yaitu ingin kaya dengan cara instan.

2. Rasa Takut

Alasan berikutnya korban tidak mau melaporkan kejadian yang dialaminya adalah karena korba takut dihubungkan dengan kasus penipuan tersebut. Walaupun korban kehilangan uangnya, pasti ada rasa takut dalam dirinya akan dikenakan sanksi hukum dalam sebuah transaksi ilegal.

Walaupun sudah terjadi beberapa kali di Indonesia dan pelakunya sudah banyak yang tertangkap, bukan tidak mungkin penipuan penggandaan uang akan terjadi lagi di masa mendatang. Pihak kepolisian juga telah menghimbau kepada masyarakat yang menjadi korban untuk melaporkan kejadian serupa.

Pelajaran penting yang bisa kita petik dari peristiwa penipuan penggandaan uang ini adalah menghasilkan uang banyak dengan cara yang dilakukan oleh Dimas Kanjeng merupakan sesuatu yang mustahil. Peristiwa penipuan yang dialami oleh korban Dimas Kanjeng tersebut bisa kita jadikan pelajaran hidup.

Diunggulkan

5 Mitos Tentang Rambut Manusia yang Sama Sekali Tidak Benar

Mitos tentang rambut yang merupakan “mahkota” manusia, telah lama ada sedari dulu, dan masyarakat hanya bisa menerima dan mempercayai begi...

Back To Top