Kenapa Malu Jadi Ibu Rumah Tangga?

Loading...
“Yah, saya cuma ibu rumah tangga, nggak ada yang istimewa,” Leni (30), menjawab dengan malu-malu setiap ada yang tanya apa kegiatannya. Sementara Yati (35) sering terhinggap iri dengan perempuan yang bekerja di luar rumah. “Situ enak, bisa kerja di luar. Saya dari dulu begini-begini saja, cuma mengurus rumah dan anak,” keluh Yati pada temannya yang PNS.

Sebegitu tidak membanggakannyakah pekerjaan ibu rumah tangga, sehingga tak sedikit para ibu yang merasa tidak berarti jika hanya berkutat pada urusan rumah dan anak? Di sisi lain, tak sedikit ibu yang bekerja di luar rumah malah mengorbankan kewajiban asasinya sebagai madrasah pertama anak dan manajer rumah tangga. Lebih banyak di luar rumah, prioritas pun kehilangan arah dan amanah utama dijalani sekadarnya. Sehingga ketika lelah melanda, timbul keluh kesah, emosi, ketidakikhlasan, bahkan pengabaian yang merugikan anak.



Ibu di tengah Perkembangan Zaman

Perkembangan zaman ternyata memberi dampak besar bagi pola pikir ibu rumah tangga kini, sebagaimana yang dialami Leni dan Yati di atas. Terbukanya peluang bagi perempuan untuk mengambil peran di sektor publik, membuat mereka bertambah percaya diri ketika memiliki multiperan, di dalam dan di luar rumah. Sebaliknya, perempuan yang merasa stagnan dengan status ibu rumah tangga makin merasa minder, seolah peran di rumah tak bergengsi.

Menurut Dwi Estiningsih, S.Psi, M.Psi, Psikolog, Direktur Biro Konsultasi Psikologi Winata, hal ini tidak lepas dari pemahaman yang tertanam sejak perempuan menempuh pendidikan bahwa kelak ia akan berkarier sesuai bidang yang dipelajari. “Ditambah lagi orangtua juga menanamkan, ‘Untuk apa disekolahkan tinggi-tinggi kalau tidak mendapat pekerjaan yang layak?’ Hingga akhirnya peran ibu yang sebelumnya berada di sektor domestik, berubah arah menuju sektor publik,” ujar Dwi.

Positifnya, seorang ibu berkesempatan memperoleh ilmu pengetahuan yang lebih luas sehingga pola pikirnya lebih terkonsep dalam mendidik anak, manajemen rumah tangga, membina hubungan dengan suami, dan melakukan aktivitas sosial kemasyarakatan. Tapi dampak negatifnya tentu ada, yaitu ketika multiperan ibu dimaknai salah kaprah dengan menafikan peran utamanya di rumah.

Senada dengan Dwi, Ustadzah Amirotun Nafisah, Al-Hafizhah mengatakan bahwa bergesernya pemahaman peran ibu, jika sampai melemahkan peran asasinya, akan berdampak negatif. “Bukan hanya potensi utama terabaikan, namun juga mengabaikan kesempatan yang Allah berikan untuk melipatgandakan pahala amal shalih dalam merawat anak dan melayani suami. Bagi anak, tentu mengganggu emosional, intelektual, dan agamanya,” jelas dosen ilmu tahfizh STIU Dirosat Islamiyah Al-Hikmah, Jakarta, ini.

Akibatnya, ibu sendiri yang akhirnya bisa frustrasi, kesal, susah ikhlas dalam menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga, yang terus terasa berat karena anak sulit dikendalikan.  Mungkinkah pahala surga yang Allah janjikan menjadi dekat ketika amanah utama terkalahan dengan peran-peran sekunder?



Tak Abai, tapi Permisif

Anak-anak yang tidak mendapatkan pengasuhan yang ideal dari seorang ibu, bukan hanya karena si ibu abai dan minder dengan perannya, tapi juga disebabkan oleh ibu modern yang memberikan pengasuhan permisif atau serba boleh ke anak-anaknya. Hal ini sering tidak disadari oleh orangtua. Saat ini terus tumbuh anak-anak yang beranjak dewasa, namun tidak mandiri dan tidak sadar tanggung jawab karena terbiasa dilayani dan dipenuhi fasilitasnya.

Pola asuh permisif, jelas Dwi, merupakan perwujudan dari pola pendidikan yang pragmatis. Pendidikan tanpa visi dan misi yang jelas. "Banyak orangtua yang ketika ditanya ingin anaknya menjadi apa, jawabannya standar, ingin anak yang shalih, berbakti pada orang tua, bermanfaat bagi bangsa dan negara. Ketika diminta menjabarkan, ujung-ujungnya hanya ingin anaknya lulus sekolah, mendapatkan pekerjaan yang bagus, dan penghasilan yang besar,” ungkap penulis dan motivator di berbagai seminar ini.

Ini kembali lagi ke masalah pemahaman orangtua terutama ibu akan perannya. Ibu yang tidak memahami peran strategisnya akan menyebabkan ketidakseimbangan dalam rumah tangga. Karena attachment (kelekatan) anak yang utama adalah sosok ibu, maka jika anak kurang attachment atau malah terlalu berlebihan bergantung pada ibu, akibatnya panjang di kemudian hari. Mulai dari masalah emosi dan masalah kesehatan mental lainnya.

“Dari pengalaman saya sebagai praktisi psikologi, seseorang yang mengalami masalah kesehatan mental pasti mempunyai hubungan yang bermasalah dengan ibu sejak usia dini. Misalnya ibu yang melewatkan masa perkembangan anaknya, seperti tidak mau menyusui lengkap dua tahun, emosi si anak akan cenderung labil dibandingkan anak yang disusui selama dua tahun,” tandas Dwi.



Agenda Besar dalam Peran Ibu

Meskipun tantangan ibu berbeda, bekerja di luar atau tidak, zaman kini atau dulu, sadarilah bahwa agenda utama perannya tetaplah sama, yaitu menanamkan keimanan dalam hati putra-putri mereka. Keimanan adalah isu utama yang harus jadi perhatian ibu, sebelum hal lainnya. Ia adalah masalah utama sebelum masalah memilih sekolah, makan sehari-hari, kompetensi akademik, atau pergaulan anak. Bila keimanan sudah tertanam di dalam hati, yang lain insya Allah baik. Di sinilah pentingnya ibu memahami peran asasinya, yaitu sesuai perintah Allah supaya orangtua menjaga diri dan keluarganya dari api neraka (QS At-Tahrim [66]:6).

Tentu ibu tak sendiri, dibutuhkan peran ayah dalam mengokohkan pemahaman ini karena ayahlah pemimpin rumah tangga. Ketika akhirnya para ibu menyadari bahwa ia adalah pilar peradaban yang dari rahimnya lahir harapan bagi agama dan bangsa, tentunya ia akan menjunjung tinggi perannya di rumah, jauh dari rasa minder, apalagi sibuk mengambil peran tak prioritas di luar rumah. Maka saat itulah jalan surga pun terbentang bagi ibu.

Sumber : http://www.ummi-online.com/kenapa-malu-jadi-ibu-rumah-tangga.html

Diunggulkan

5 Mitos Tentang Rambut Manusia yang Sama Sekali Tidak Benar

Mitos tentang rambut yang merupakan “mahkota” manusia, telah lama ada sedari dulu, dan masyarakat hanya bisa menerima dan mempercayai begi...

Back To Top