Saya Kabur Dari Rumah Untuk Menikah 10 Tahun yang Lalu. Setelah Itu Ibu Meninggal, dan Tiba- tiba Sebuah SMS Masuk….

Loading...
Saya mengenal suami saya 13 tahun yang lalu, dia berasal dari Harbin, sedangkan saya dari Yunnan. Saat itu saya tidak sengaja mengandung, saya pun tidak  tega untuk membuang bayi saya dan meninggalkan hubungan yang sudah berjalan 3 tahun. Oleh karena itu, 10 tahun yang lalu, saya bersikeras untuk menikah. Tapi ibu tidak setuju, ia pun mengurung saya dan menyita ponsel saya. Karena hal ini, setiap hari saya harus beradu mulut dengan ibu, dan ibu tetap tidak membiarkan saya pergi.




Tidak lama setelah itu, kakak sepupu saya menikah sehingga ibu dan ayah harus pergi ke rumahnya. Tapi saat itu ibu takut saya kabur, sehingga saya pun ikut dibawa pergi. Jujur saja, saat itu saya memang berniat untuk kabur. Saya terus mencari celah untuk melarikan diri, tapi ibu selalu menjaga saya, sampai akhirnya malam hari tiba. Pada malam itu, saya sangat cepat sudah masuk kamar dan tidur, ibu pun tetap ikut berbaring disebelah untuk menjaga saya. Tapi akhirnya, paman saya masuk ke kamar dan mengajak ibu main kartu, saat ibu menolak, si paman berkata, "Sudahlah, lagian dia sudah tertidur. Gak bakal kabur lah…"

Akhirnya ibu pun termakan bujukan paman dan turun kebawah, pada kesempatan ini saya langsung keluar dan meminjam telepon sanak keluarga yang lain, lalu menelepon pacar saya dan menyuruhnya menjemput saya. Setelah itu saya juga meminjam uang 1000 RMB ( kira- kira 2 juta rupiah), dan kabur. Saat itu pikiran saya sudah dibutakan, hanya melarikan diri sajalah yang terlintas dalam pikiran saya. Saya pun langsung naik kereta sampai ke Heilongjiang.

Ketika sampai di Heilongjiang, pacar saya sudah sampai dan dia membelikan saya ponsel baru. Saya pun langsung menghubungi paman saya dan menanyakan kabar ibu, paman mengatakan ibu terus mencari saya, bahkan dia sudah dalam perjalanan ke Heilongjiang! Sebenarnya ibu belum pernah berpergian jauh seorang diri, karena takut ibu salah jalan, akhirnya saya pun menunggu ibu di stasiun. Tapi saat saya bertemu dengan ibu, ia langsung menarik saya dan memaksa saya pulang.

Saya pun menepis tangannya dan berteriak, "Bu, bisa tidak jangan memperdulikan saya? Kalau nanti saya sampai mengemis nasi, saya juga tidak akan menyalahkan ibu! Saya sayang pacar saya dan saya mau menikah dengannya!". Ibu pun langsung menampar saya lalu terduduk dilantai, ia terus menangis dan mengatai saya anak tidak tahu diri. Akhirnya ibu pun pulang, kalimat terakhir yang ia lontarkan adalah ia tidak akan menganggap saya sebagai putrinya lagi! Ya, begitulah, dengan keadaan seperti ini saya pun menikah dengan pacar saya. Setelah menikah, sebenarnya saya ingin sekali mengunjungi orangtua saya, namun setiap saya menelepon ibu, ibu selalu marah- marah dan tidak mengizinkan saya pulang.


Selama ini, saya tidak pernah mengerti kenapa ibu tidak bisa mengerti keadaan saya, kenapa dia selalu tidak mengizinkan saya menikah jauh, kenapa dia harus menyulitkan saya. Saya pun pasrah dan akhirnya memutuskan untuk tidak pulang. Namun kemudian, perasaan bersalah tetap terngiang dalam hati, akhirnya saya memutuskan untuk mengirimkan dana untuk orangtua saya, karena kebetulan gaji saya saat itu cukup tinggi.

Atas persetujuan suami, saya pun menghubungi ayah dan minta nomor rekening ibu. Sejak saat itu, setiap bulannya saya mengirimkan dana sebesar 4 juta rupiah untuk mereka. Hal ini terus berlangsung selama 10 tahun, saya pun sudah punya dua anak, tapi mereka sama sekali tidak mengenal kakek dan neneknya. Sebenarnya, saya juga sangat rindu orangtua saya, tapi ibu masih sangat marah pada saya ketika saya menelepon.

Sampai akhirnya pada bulan Mei lalu, saya tiba- tiba menerima telepon dari ayah. Dia mengatakan ibu sudah tiada, dia sudah pergi karena mengidap kanker….. Apa? Kanker? Kenapa selama ini ibu tidak pernah mengatakan hal tersebut? Kenapa dia tidak pergi berobat? Setelah mendengar kabar ini saya dan keluarga langsung pulang ke rumah.

Lucunya, setelah sekian lama tidak pulang, saya bahkan sudah tidak bisa menemukan rumah saya! Desa yang saya tinggali dulu sudah berubah, perumahan baru sudah banyak dibangun, sungguh sangat berbeda! Kalau tidak ada upacara pemakaman, saya pasti sudah tidak bisa menemukan rumah saya.

Ibu, saya sudah pulang… Ibu, saya minta maaf… Saya terus menangis dalam perjalanan, dari Harbin sampai ke rumah.

Related Posts

Saya Kabur Dari Rumah Untuk Menikah 10 Tahun yang Lalu. Setelah Itu Ibu Meninggal, dan Tiba- tiba Sebuah SMS Masuk….
4/ 5
Oleh