Binatang Selokan dan Menjijikan di Palembang Ini Tenar dan Jadi Makanan Mahal di Eropa

Loading...
Tingginya permintaan belut (monopterus albus) dari luar negeri, yang tidak mampu dipenuhi oleh peternak belut yang ada di Palembang dan sekitarnya, ternyata memberikan peluang bagi masyarakat.

Belut yang hidup di selokan (drainase) kini dicari para pemburu, karena lumayan harga jual ke pedagang pengumpul di sejumlah pasar tradisional Rp 35.000.
Belut-belut tersebut memiliki pangsa pasar baik lokal, Asia hingga Eropa. Selain dibutuhkan untuk bahan menu restoran seafood internasional, juga dibutuhkan sebagai salah satu komponen bahan kosmetik.
Perburuan belut yang berkembang secara alami dilakukan, mulai di daerah rawa hingga saluran pembuangan (parit) atau drainase yang kotor dan jorok.
Namun hal itu tidak menyurutkan para pemburu untuk mencari belut. Misalnya, dengan cara “mengecis” atau penyetruman jelang tengah malam.
Sripo menemukan aktivitas “ngecis” yang hanya bermodal baterai aki daya 10 ampere yang biasa dipakai untuk sepeda motor Honda Tiger ini.
Baterai ini mampu menghasilkan listrik setara 900 volt ampere (VA).
Baterai aki disimpan dalam sebuah jeriken 10-15 liter, yang sudah dirancang seperti tas ransel.
Lalu terdapat komponen kabel dan stick besi yang dialiri listrik. Para pemburu seperti Riko (34) dan Ardi (30), selalu membawa lampu senter sebagai penerang, mulai menelusuri parit dan menusukan stick besi ke air atau lubang yang diduga menjadi rumah belut.
Benar saja, saat stick yang dialiri listrik begitu disentuhkan ke air di selokan, maka mau tidak mau menjadi penghantar dan semua biota yang hidup di drainse akan pingsan hingga mati karena sengatan listrik.
Bagi biota kecil, mungkin akan mati sedangkan biota yang tergolong besar hanya pingsan.
Jangan bangga dahulu, setelah 2-3 menit akan siuman kembali, dan akan sulit untuk ditangkap karena licin.
Dan benar saja, tidak lama setelah itu belut keluar dari lubang persembunyiannya, dan Ardi langsung menyambar dengan tangannya, lalu belut dimasukan ke tempat khusus. Ternyata, dalam waktu 2 jam, sudah 5-8 Kg belut terkumpul.
Riko dan Ardi, ternyata tidak hanya mendapatkan belut, mereka mendapatkan ikan gabus (channa striata) bahkan termasuk biawak yang bersembunyi di selokan.
Baik Riko maupun Ardi, warga Jalan Talangkelapa ini mengaku hampir setiap malam turun dengan lokasi yang berbeda-beda dengan pemasukan rata-rata Rp 280.000/hari.
“Lumayan untuk tambahan uang asap dapur,” katanya, seraya menambahkan, belut-belut yang terkumpul, dibawa ke seorang pengepul di Pasar Alang-Alang Lebar Km 12.
Hasil penelusuran Sripo bermuara ke seorang pengepul belut, diketahui bernama Thoriq (42).
Pria ini selain pengepul belut, juga menjual belut untuk masyarakat di Km 12. Namun diakui, untuk konsumsi lokal tidak begitu direspon masyarakat.
Rata-rata terjual hanya 1 Kg/hari. Untuk itu, belut yang dihimpun dari warga dikumpulkan hingga 200-400 Kg, setelah itu barulah dijual ke pengumpul besar yang ada di Jalan Kebun Bunga Kecamatan Sukarami seharga Rp 60 ribu/kg.
“Saya dengar belut-belut yang terkumpul di ekspor ke luar negeri, seperti ke Jepang untuk rumah makan seafood. Ada juga untuk rumah makan seafood di Jakarta. Tapi kebanyakan untuk diekspor,” kata Thoriq.
Di pasar internasional, harga belut segar antara US$ 8-9/kg atau Rp 70.000-90.000/kg.
Beberapa tahun lalu, harga belut segar grade super (3-10 ekor/kg) antara US$ 12-13. Bila pasokan membludak, harga belut dipasar internasional turun menjadi US$ 10-11/kg.
Sementara jika pasokan belut menurun, harga belut naik 2-3 poin. Harga belut grade super bisa mencapai US$ 16-18/kg, dan harga paling rendah sekitar US$ 14/kg.
Sementara Musa, pengepul belut yang berada di kawasan Kelurahan 13 Ulu Kecamatan SU II Palembang berujar, berapa pun hasil yang didapat para pencari belut, siap ditampung pengepul.
Memang untuk stok belut yang diterima pengepul, hanya mengandalkan pasokan dari para pencari belut.
“Selama ini harga belut stabil, tidak naik dan tidak turun. Meskipun saat ini musim hujan, harga belut tetap tak berubah,” ujarnya.
Musa mengatakan, perhari di tempatnya bisa menampung sebanyak 70 kg belut.
Pasokan belut yang ditampungnya, memang dipasok dari kalangan pencari belut liar yang biasa mencari di rawa-rawa dan
parit.
Kemudian belut yang sudah ditampungnya, dijual kembali ke agen belut yang sudah skala besar.
“Belut liar memang lebih diminati. Baik itu ukurannya besar atau kecil. Setahu saya belut itu susah untuk dibudidaya. Jadi selama ini hanya mengandalkan dari pencari belut liar,” ujarnya.
Mengenai pasokan belut yang dikumpulkan di agen skala besar, Musa mengatakan, kalau sudah di tingkat agen, jumlah belut itu sudah banyak sekali.
Bahkan sudah mencapai ton perharinya dan kondisi belut itu masih hidup semua dan ditampung dalam drum berisi air.
“Kalau saya ini hanya sebatas pengepul saja. Katanya belut itu diekspor ke luar negeri, apakah untuk dikonsumsi atau untuk lainnya. Kalau dijual di pasar kita, mungkin tidak laku. Karena siapa yang mau makan belut, mungkin hanya sebagian orang saja,” ujarnya.
Tidak Tertarik
Thoriq pun mengaku aneh, minat masyarakat terhadap budidaya belut masih belum ada, dan cenderung memilih untuk jenis Ikan Lele, gurami dan lainnya.
Padahal, harga jual lebih tinggi belut dibandingkan Ikan Lele.
“Ikan Lele perkilo hanya Rp 16 ribu, belut bisa mencapai Rp 40 ribu perkilo. Ternaknya tidak susah, butuh waktu 3-4 bulan, sudah bisa panen,” katanya.
Seorang pengepul besar nama Roni (55) di Sukarami mengaku, belut banyak memiliki keistimewaan, bahkan bisa dimanfaatkan sebagai obat penguat stamina tubuh, menghilangkan pegal-pegal dipinggang, penambahan darah, dan obat liver, serta memperlancar persalinan dan keluarnya air susu ibu.
Khasiat tersebut diperoleh dengan memanfaatkan cairan dari tubuh belut atau memasak belut dengan campuran bahan makanan atau bumbu-bumbu.
Lebih dari itu, belut telah pula dimanfaatkan sebagai kosmetik dan perawatan kecantikan. Minyak belut dipercaya dapat mengencangkan payudara dan membuat kulit halus dan licin.
Karena itu, minyak belut banyak dicari oleh kaum perempuan yang selalu ingin tampil cantik dan mulus.
Karena kandungan gizi yang tinggi itulah, maka belut dikonsumsi oleh berbagai lapisan masyarakat, yang melintas negara dan benua.
“Untuk lokal, belut belum dilirik sebagai sumber protein. Namun dibanyak negara Asia, belut merupakan makanan eksklusif yang mahal sehingga hanya bisa dikonsumsi oleh mereka yang berada ditingkat ekonomi menengah ke atas, seperti Singapura, Jepang, Hongkong, Korea Selatan, Perancis, Australia, Italia, Belanda, dan Jerman. Jepang merupakan konsumen belut terbesar di dunia,” katanya.

Related Posts

Binatang Selokan dan Menjijikan di Palembang Ini Tenar dan Jadi Makanan Mahal di Eropa
4/ 5
Oleh